Berita Lain

Indeks Berita

Kamis, 14/08/2008 12:01 WIB
Catatan Odilia Winneke
Saudara Lodeh dan Rendang
Odilia Winneke - detikFood

GB

Jakarta - Meski sudah tak ikut upacara bendera dan aneka lomba tetapi menjelang 17 Agustus ini kok tetap saja heboh dan sibuk. Ya bikin tumpeng, mangut pe, tahu gimbal, soto lento dan getuk buat acara kumpul-kumpul. Semuanya membuat kemeriahan tersendiri di lubuk hati.

Sejak minggu-minggu pertama bulan Agustus saya mendapat kesempatan untuk merasakan keelokan kuliner negeri ini. Diawali dengan festival Celebes yang digelar sebuah hotel berbintang di Jakarta. Ada berbagai masakan Sulawesi yang diolah oleh tangan-tangan trampil dari daerah asalnya sehingga terasa sedap dan enak. Dari sop konro, panada, woku balanga sampai coto Makasar.

Di lain hari saya sempat mencicipi kedahsyatan kuliner Samarinda dalam sebuah promosi hidangan Samarinda. Bertemu dengan Ibu Acil Ainun, pemilik restoran sekaligus ahli kuliner Samarinda yang mengolah hidangan dengan sentuhan pribadi. Ibu yang ramah ini membuat saya makin sadar betapa banyak 'mutiara kuliner' yang dimiliki bangsa ini.

Nasi bekepor yang diolah ibu Acil dibuat dari beras mayas, beras unggulan Samarinda yang tak banyak dikenal orang. Juga ada terong asam yang diolah jadi tumisan yang unik. Belum lagi ikan lais yang gurih renyah plus sambal raja yang dahsyat.

Di akhir pekan yang lalu sayapun menyempatkan diri untuk mengunjungi dua event kuliner yang digelar bersamaan. Festival jajanan dan pameran pangan nusa. Di festival jajanan itu dihadirkan warung-warung jajan dengan hidangan lokal yang enak. Mulai dari ketoprak Ciragil, nasi ulam bu Yoyoh, soto udang Medan, rujak juhi bang Tata, hingga ayam taliwang Lombok. Meskipun hanya jajaran penjaja makanan tetapi kehadiran mereka memberi nuansa yang berbeda. Di satu tempat kita bisa langsung membandingkan nasi ulam racikan bu Yoyoh dan pak Misjaya dengan keunikan masing-masing.

Saat di pameran Pangan Nusa saya justru melihat 'potensi kuliner' yang sangat banyak di negeri ini. Ada olahan beragam umbi umbian dari ganyong, ubi, tales dan singkong menjadi aneka tepung.

Dari Malang, ada aneka keripik buah yang enak dan higienis. Belum lagi jus belimbing dewi, bakpia, aneka jenang dan dodol, aneka camilan kering, aneka kacang, aneka sirop, dan rendang yang sudah dikemas cantik. Saya melihat bahwa industri makanan lokal sudah mulai berkembang. Bukan tak mungkin akan jadi andalan tiap daerah.

Apakah kita sebagai bangsa yang punya kekayaan kuliner ini sudah cukup sadar? Dalam sebuah obrolan pak William berbagi cerita, "Bayangkan saja Papua sangat kaya akan ikan barramundi berkualitas yang banyak diekspor ke luar negeri tetapi kita tak mampu mendatangkan ke Jakarta," demikian cerita pak William.

Ya, memang kita sering begitu gampang mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah untuk makan hidangan Prancis tetapi selalu complaint atau nawar saat menyantap seporsi gulai kepala ikan. "Yang kita perlukan adalah semangat dan rasa cinta yang kuat pada kuliner negeri ini," imbuh pak William yang baru saja mendapatkan 'BNSP Competency Award' dari Wakil Presiden.

Di usia yang lanjut semangat pak William tetap tinggi, karena itu saya pun merasa makin bersyukur masih bisa ngobrol dengan beliau dan bisa mendatangi event kuliner yang memompa nasionalisme. Tanpa angkat senjata atau berdemo, perbuatan kecil pun akan memberi banyak arti.

Nah, di akhir pekan ini saya masih punya 3 gawe yang berkaitan dengan kuliner tradisional. Menyiapkan acara kopdar milis detikfood yang menggelar potluck makanan tradisonal. Membuat tumpeng dan jajan pasar buat lingkungan RT dan menghadiri undangan ultah komunitas Jalansutra yang juga menggelar makanan tradisional. Ah, meskipun sibuk rasanya inilah cara yang indah untuk menunjukkan cinta pada negeri ini.

Indahnya melihat perbedaan rasa bersanding, lodeh, rendang, gudeg, bebek betutu, dan ayam di buluh… Sebuah karunia terindah dari Yang Maha Kuasa untuk bangsa ini. Maka sayapun sangat setuju dengan pendapat mas Bondan bahwa hidangan tradisional merupakan 'warisan pusaka kuliner' yang harus kita lestarikan. Selamat ulang tahun negeriku! Panjang umur dan MERDEKA! ( dev / Odi )
Komentar terkini (0 Komentar) Belum ada komentar yang masuk

Baca juga:

Diskusikan pendapat Anda dengan pembaca lain melalui milis detikfood@yahoogroups.com
Kirim e-mail kosong ke detikfood-subscribe@yahoogroups.com untuk berpartisipasi.
Redaksi: redaksi@detikfood.com
Informasi Pemasangan Iklan:
Widya Dewi
Email : iklan@detikfood.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.525,526