Forum Meok
- (ask) resep bikin lontong... eniss
- cari resep mie goreng / n... wedusterbang
- Resep udang gandum... yovita
- ==Beranda Dapur Saji Deti... I'm JeWs!!!
- Makan apa saja hari ini ?... F.F.F
- kepenginnya makan apa sek... flextersumatera
Berita Lain
- Rabu, 17/09/2008 13:21 WIB
Bertemu Lulu & Sekkeri -
Selasa, 08/07/2008 16:21 WIB
Catatan Bondan Winarno
Memburuknya Kualitas Layanan Sektor Pariwisata -
Senin, 09/06/2008 14:30 WIB
Kesetiaan di Balik Bakcang -
Rabu, 14/05/2008 15:21 WIB
Stop Membuang 'Makanan Sisa'! -
Jumat, 02/05/2008 10:47 WIB
Catatan Bondan Winarno
Kuliner Ekstrem
Indeks Berita
Selasa, 22/07/2008 14:40 WIB
Catatan Odilia Winneke
Mabuk Oleh-Oleh
Odilia Winneke - detikFood

Jakarta - Siapa sih yang nggak suka diberi oleh-oleh? Bagai hadiah spesial, oleh-oleh apapun bentuknya selalu membuat orang senang. Lha, pagi ini saya justru dibikin pusing dengan urusan oleh-oleh. Berbagai penganan dari berbagai daerah berjejalan di lemari dapur dan lemari es. Nah, lho!
Benar-benar saya dibuat tercenung saat membuka lemari dapur, di dapur belakang dan tengah. Berbagai bungkusan masih bertumpukan tepatnya berjejalan. Ada kerupuk gendar dan udang, ikan asin sileman dari Surabaya (ini saya beli di pasar Genteng 2 bulan lalu), ada terasi Bangka dan 2 kantong kerupuk Bangka (ini oleh-oleh dari Lisa yang mudik ke Bangka), ada teri Medan, rebon dan manisan kulit jeruk (ini saya beli dari Medan), 2 bungkus rengginang kering (dari Bu Tini yang mudik ke Cimahi), keripik kentang dan keripik oncom (dari kakak sepupu di Bandung), 2 botol tauco dan sebungkus emping (oleh-oleh Yati dari Cirebon), dan berbagai bungkusan lain.
Bukan masalah 'lapar mata' atau rakus tetapi jejalan aneka oleh-oleh ini justru membuat saya jadi bangga. Betapa tidak. Negeri yang elok ini punya beratus-ratus jenis makanan khas daerah yang unik dan selalu bikin kangen. Unik, sangat khas daerah. Kerupuk gendar dari Surabaya beda dengan dari Solo. Belum lagi soal kacang atau kecap manis. Tak terhitung lagi varian dan jenisnya.
Penganan khas daerah inilah yang menghidupkan industri kecil dan rumahan di daerah. Inilah yang selalu saya lihat tiap kali mampir ke daerah. Orang berjejalan mengantri brownies kukus Amanda di Bandung, berdesakan memborong puluhan kotak bolu gulung Meranti dan bika Ambon Ati di Medan, atau sibuk mengatur kemasan kerupuk, lurjuk, bandeng asap di pasar Genteng Surabaya.
Belum lagi di bandara tiap orang menenteng bungkusan oleh-oleh dan sibuk mengepak bagasi oleh-oleh. Tak peduli sudah berdandan rapi atau besepatu tumit tinggi. Bukan malu tetapi justru bangga dan senang!
Nah, sikap bangga dengan penganan daerah inilah yang harus terus dipupuk. Makin lama produsen oleh-oleh juga makin canggih. Misalnya, menyediakan servis ambil di Jakarta untuk pesanan sirop markisa dan terong Belanda dari Medan, keripik sanjai dan aneka camilan kering dari Padang. Oleh-oleh dikemas rapi dan dikirim ke alamat rumah sehingga tak perlu repot menenteng.
Bisnis oleh-oleh juga tak bisa dianggap sepele. Bayangkan saja 1 kotak bolu gulung Meranti Medan harganya Rp.35.000,00. Jika per hari bisa terjual minimal 200 kotak, tentulah sangat besar omzetnya. Ini baru satu jenis belum jenis makanan lain yang dijual juga.
Meskipun dikerjakan dalam skala industri rumahan, omzet penjualannya tak bisa dianggap sepele. Kalau saja tiap pemerintah daerah menaruh perhatian serius dengan bimbingan dan promosi, pastilah akan lebih banyak lagi industri rumahan yang sukses.
Oleh-oleh memang tak sekedar penganan enak tetapi ada keterkaitan emosi. Saat mengunyah keripik sanjai saya teringat akan goa Jepang dan kota Padang yang pernah saya singgahi. Demikian juga saat makan bandeng presto Pandanaran saya teringat akan kota Semarang tempat saya dibesarkan.
Bahkan saat saya menerima kiriman bumbu pecel Blitar saya langsung tahu kalau adik ipar saya pasti baru menang lomba ikan koi lagi. Emosi dan memori yang sangat khas inilah yang membuat bisnis oleh-oleh tetap saja laris. Banyak orang terjerat memori dan emosi lewat tampilan dan rasa oleh-oleh yang dimakan. Inilah keunikan masyarakat kita yang tak ada duanya di dunia!
Saat menyeduh jasmine tea pagi ini saya teringat moci yang saya simpan di lemari es, saya beli Sabtu kemarin saat ke Cianjur. O la..la.. ternyata di kulkas saya masih menemukan satu kotak bolu gulung keju Meranti dan setengah kotak bika Ambon Ati, saya beli di Medan 2 minggu lalu. Walah, mungkin saya tergolong orang yang gila atau mabuk oleh-oleh ya? Tidak puas kalau tidak membawa makanan paling top dari daerah.
Apa Anda juga kayak saya? Hmmm... nggak tahulah pokoknya moci Cianjur pandan yang saya kunyah ini terasa lembut, mentul-mentul dengan isi kacang yang kres-kres gurih sedikit manis. Eunaak tenan! ( dev / Odi )
Catatan Odilia Winneke
Mabuk Oleh-Oleh
Odilia Winneke - detikFood

Benar-benar saya dibuat tercenung saat membuka lemari dapur, di dapur belakang dan tengah. Berbagai bungkusan masih bertumpukan tepatnya berjejalan. Ada kerupuk gendar dan udang, ikan asin sileman dari Surabaya (ini saya beli di pasar Genteng 2 bulan lalu), ada terasi Bangka dan 2 kantong kerupuk Bangka (ini oleh-oleh dari Lisa yang mudik ke Bangka), ada teri Medan, rebon dan manisan kulit jeruk (ini saya beli dari Medan), 2 bungkus rengginang kering (dari Bu Tini yang mudik ke Cimahi), keripik kentang dan keripik oncom (dari kakak sepupu di Bandung), 2 botol tauco dan sebungkus emping (oleh-oleh Yati dari Cirebon), dan berbagai bungkusan lain.
Bukan masalah 'lapar mata' atau rakus tetapi jejalan aneka oleh-oleh ini justru membuat saya jadi bangga. Betapa tidak. Negeri yang elok ini punya beratus-ratus jenis makanan khas daerah yang unik dan selalu bikin kangen. Unik, sangat khas daerah. Kerupuk gendar dari Surabaya beda dengan dari Solo. Belum lagi soal kacang atau kecap manis. Tak terhitung lagi varian dan jenisnya.
Penganan khas daerah inilah yang menghidupkan industri kecil dan rumahan di daerah. Inilah yang selalu saya lihat tiap kali mampir ke daerah. Orang berjejalan mengantri brownies kukus Amanda di Bandung, berdesakan memborong puluhan kotak bolu gulung Meranti dan bika Ambon Ati di Medan, atau sibuk mengatur kemasan kerupuk, lurjuk, bandeng asap di pasar Genteng Surabaya.
Belum lagi di bandara tiap orang menenteng bungkusan oleh-oleh dan sibuk mengepak bagasi oleh-oleh. Tak peduli sudah berdandan rapi atau besepatu tumit tinggi. Bukan malu tetapi justru bangga dan senang!
Nah, sikap bangga dengan penganan daerah inilah yang harus terus dipupuk. Makin lama produsen oleh-oleh juga makin canggih. Misalnya, menyediakan servis ambil di Jakarta untuk pesanan sirop markisa dan terong Belanda dari Medan, keripik sanjai dan aneka camilan kering dari Padang. Oleh-oleh dikemas rapi dan dikirim ke alamat rumah sehingga tak perlu repot menenteng.
Bisnis oleh-oleh juga tak bisa dianggap sepele. Bayangkan saja 1 kotak bolu gulung Meranti Medan harganya Rp.35.000,00. Jika per hari bisa terjual minimal 200 kotak, tentulah sangat besar omzetnya. Ini baru satu jenis belum jenis makanan lain yang dijual juga.
Meskipun dikerjakan dalam skala industri rumahan, omzet penjualannya tak bisa dianggap sepele. Kalau saja tiap pemerintah daerah menaruh perhatian serius dengan bimbingan dan promosi, pastilah akan lebih banyak lagi industri rumahan yang sukses.
Oleh-oleh memang tak sekedar penganan enak tetapi ada keterkaitan emosi. Saat mengunyah keripik sanjai saya teringat akan goa Jepang dan kota Padang yang pernah saya singgahi. Demikian juga saat makan bandeng presto Pandanaran saya teringat akan kota Semarang tempat saya dibesarkan.
Bahkan saat saya menerima kiriman bumbu pecel Blitar saya langsung tahu kalau adik ipar saya pasti baru menang lomba ikan koi lagi. Emosi dan memori yang sangat khas inilah yang membuat bisnis oleh-oleh tetap saja laris. Banyak orang terjerat memori dan emosi lewat tampilan dan rasa oleh-oleh yang dimakan. Inilah keunikan masyarakat kita yang tak ada duanya di dunia!
Saat menyeduh jasmine tea pagi ini saya teringat moci yang saya simpan di lemari es, saya beli Sabtu kemarin saat ke Cianjur. O la..la.. ternyata di kulkas saya masih menemukan satu kotak bolu gulung keju Meranti dan setengah kotak bika Ambon Ati, saya beli di Medan 2 minggu lalu. Walah, mungkin saya tergolong orang yang gila atau mabuk oleh-oleh ya? Tidak puas kalau tidak membawa makanan paling top dari daerah.
Apa Anda juga kayak saya? Hmmm... nggak tahulah pokoknya moci Cianjur pandan yang saya kunyah ini terasa lembut, mentul-mentul dengan isi kacang yang kres-kres gurih sedikit manis. Eunaak tenan! ( dev / Odi )
Komentar terkini (4 Komentar)
Baca juga:
Diskusikan pendapat Anda dengan pembaca lain melalui milis detikfood@yahoogroups.com
Kirim e-mail kosong ke detikfood-subscribe@yahoogroups.com untuk berpartisipasi.
Kirim e-mail kosong ke detikfood-subscribe@yahoogroups.com untuk berpartisipasi.
Redaksi: redaksi@detikfood.com
Informasi Pemasangan Iklan:
Widya Dewi
Email : iklan@detikfood.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.525,526
Informasi Pemasangan Iklan:
Widya Dewi
Email : iklan@detikfood.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.525,526
