Forum Meok
- Pusat Oven Gas Terlengkap... yannygoldenstar
- Kedai Benmarem... ckoesno
- Keripik buah & keripi... m-store
- Makan apa saja hari ini ?... F.F.F
- ==Beranda Dapur Saji Deti... jews
- kepenginnya makan apa sek... flextersumatera
Berita Lain
-
Rabu, 17/09/2008 13:21 WIB
Bertemu Lulu & Sekkeri -
Kamis, 14/08/2008 12:01 WIB
Catatan Odilia Winneke
Saudara Lodeh dan Rendang -
Selasa, 22/07/2008 14:40 WIB
Catatan Odilia Winneke
Mabuk Oleh-Oleh -
Selasa, 08/07/2008 16:21 WIB
Catatan Bondan Winarno
Memburuknya Kualitas Layanan Sektor Pariwisata -
Senin, 09/06/2008 14:30 WIB
Kesetiaan di Balik Bakcang -
Rabu, 14/05/2008 15:21 WIB
Stop Membuang 'Makanan Sisa'!
Indeks Berita
Selasa, 11/03/2008 12:02 WIB
Hemat Minyak, Hidup Sehat
Odilia Winneke - detikFood

Jakarta - Akhir-akhir ini menyebut kata 'minyak' bisa sangat sensitif. Harap maklum, karena yang menyandang nama; 'minyak bumi', 'minyak tanah', dan 'minyak goreng' menjadi pembicaraan hangat. Apalagi kalau bukan soal harganya, harga yang selalu membumbung dan tak pernah turun. Padahal si minyak itu sangat penting bagi hajat hidup orang banyak. Lha, kok bisa ya?
Memang saat ini kita sedang masuk era lepas kendali, dari soal mental, harga diri, gizi sampai urusan dapur yaitu 'minyak goreng'. Tak ada yang bisa menebak bahwa dalam seminggu minyak goreng bisa naik harga hingga tiga kali. Jadi fluktuasi harganya sudah mirip saham atau surat berharga. Menurut penjelasan Menteri Perdagangan kenaikan harga karena harga minyak kelapa sawit di pasar global mengalami kenaikan. Lha, kok ibu rumahtangga mesti mikir soal pasar global segala ya? Pokoknya yang mereka tahu uang belanja sudah habis sebagian untuk membeli minyak goreng.
Kalau diamati, dua dekade belakangan ini masyarakat kita memang kecanduan dengan sesuatu yang digoreng alias gorengan. Ini semua berkat pengaruh fried chicken yang gurih mengelus lidah, krenyes-krenyes, hasil racikan para koki negeri paman Sam yang dijual di gerai fast food. Sederetan makanan populer juga memakai kata 'goreng'; tahu goreng, tempe goreng, aci goreng, ubi goreng, singkong goreng, talas goreng, pisang goreng, bakwan goreng, ayam goreng, bebek goreng sampai es krim goreng. Hampir semua bahan makanan selalu digoreng.
Padahal kalau mau melongok kuliner tradisional, koleksi makanan gorengan tidaklah terlalu banyak. Justru banyak makanan yang diolah dengan cara dikukus, dibakar, dipanggang atau diungkep (dimatangkan dengan bumbu dan sedikit air) yang sangat sehat. Belum lagi tambahan rempah-rempah segar dan aneka dedaunan yang sedap wangi. Karena makanan tradisional 'tenggelam' oleh hiruk pikuk makanan cepat saji maka si gorenganlah yang jadi primadona. Meskipun mengolah makanan dengan cara menggoreng kurang sehat.
Dalam proses penggorengan, bahan makanan dimatangkan melalui panas minyak goreng. Hasilnya, makanan lebih gurih, renyah karena ada sebagian lemak yang tertinggal pada bahan makanan. Jenis minyak yang dipakai untuk menggoreng sangat menentukan kadar lemak makanan yang digoreng. Minyak goreng atau minyak makan mengandung lemak jenuh (saturated fat) yang bisa emicu pertambahan LDL (kolesterol jahat) lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fat) dan lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fat) yang bisa menurunkan LDL.
Dari hasil eksperimen yang pernah saya lakukan untuk sebuah merk minyak goreng, memang terbukti jika minyak kelapa dan minyak kelapa sawit merupakan jenis minyak yang paling bagus untuk menggoreng. Bisa menyimpan panas lebih lama dan memberi hasil gorengan yang kering dan garing. Ironisnya kedua jenis minyak ini justru mengandung lemak jenuh yang lebih besar dan tidak bersahabat pada jantung.
Karena itu mumpung saat ini harga minyak goreng (yang sebagian besar dari campuran minyak kelapa sawit) sedang naik, kita bisa melakukan beberapa cara jitu untuk menghemat. Untuk menumis makanan bisa dipakai jenis minyak lain (minyak kedelai, minyak olive atau minyak canola) yang lebih sehat. Teknik mengolah makanan juga bisa dibuat lebih sehat. Tinggal mencontoh atau meneruskan warisan nenek moyang kita. Misalnya tahu bisa dibuat botok, atau dibacem (diungkep dengan bumbu). Ayam juga lebih enak dibakar dengan bumbu kuning atau bumbu rujak atau bumbu Bali. Telur bisa dibuat petis telur, semur telur, opor telur atau bistik telur.
Pemakaian santan dan bumbu atau rempah akan memberi rasa gurih yang lebih dahsyat. Khusus untuk camilan, sudah saatnya beralih ke jajanan tradisional yang lebih sehat. Kue pisang yang dikukus (pakai tepung beras pula yanglebih murah dari tepung terigu), kue lapis, kue rangin, dan singkong juga tak perlu digoreng, bisa direbus dengan santan encer yang diberi gula merah sampai singkong merekah dan kecokelatan. Dijamin rasa penganan tradisional lebih dahsyat dari french fries atau burger!
Sudah seminggu ini saya juga mengurangi konsumsi gorengan. Seperti hari ini saya membuat sayur mangut iwak pe, tahu dan tempe bacem, ayam bakar Klaten, plus tumis kecipir tempe bosok. Nah, buat penganan sore saya sudah menyiapkan bongko pisang (dari tepung beras dan pisang raja) yang dibungkus daun pisang batu. Hmm... hitung-hitung berhemat sambil memulai hidup sehat sekaligus melestarikan warisan nenek moyang. Nah, Andapun bisa mulai dengan makanan daerah asal Anda! ( dev )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Hemat Minyak, Hidup Sehat
Odilia Winneke - detikFood

Memang saat ini kita sedang masuk era lepas kendali, dari soal mental, harga diri, gizi sampai urusan dapur yaitu 'minyak goreng'. Tak ada yang bisa menebak bahwa dalam seminggu minyak goreng bisa naik harga hingga tiga kali. Jadi fluktuasi harganya sudah mirip saham atau surat berharga. Menurut penjelasan Menteri Perdagangan kenaikan harga karena harga minyak kelapa sawit di pasar global mengalami kenaikan. Lha, kok ibu rumahtangga mesti mikir soal pasar global segala ya? Pokoknya yang mereka tahu uang belanja sudah habis sebagian untuk membeli minyak goreng.
Kalau diamati, dua dekade belakangan ini masyarakat kita memang kecanduan dengan sesuatu yang digoreng alias gorengan. Ini semua berkat pengaruh fried chicken yang gurih mengelus lidah, krenyes-krenyes, hasil racikan para koki negeri paman Sam yang dijual di gerai fast food. Sederetan makanan populer juga memakai kata 'goreng'; tahu goreng, tempe goreng, aci goreng, ubi goreng, singkong goreng, talas goreng, pisang goreng, bakwan goreng, ayam goreng, bebek goreng sampai es krim goreng. Hampir semua bahan makanan selalu digoreng.
Padahal kalau mau melongok kuliner tradisional, koleksi makanan gorengan tidaklah terlalu banyak. Justru banyak makanan yang diolah dengan cara dikukus, dibakar, dipanggang atau diungkep (dimatangkan dengan bumbu dan sedikit air) yang sangat sehat. Belum lagi tambahan rempah-rempah segar dan aneka dedaunan yang sedap wangi. Karena makanan tradisional 'tenggelam' oleh hiruk pikuk makanan cepat saji maka si gorenganlah yang jadi primadona. Meskipun mengolah makanan dengan cara menggoreng kurang sehat.
Dalam proses penggorengan, bahan makanan dimatangkan melalui panas minyak goreng. Hasilnya, makanan lebih gurih, renyah karena ada sebagian lemak yang tertinggal pada bahan makanan. Jenis minyak yang dipakai untuk menggoreng sangat menentukan kadar lemak makanan yang digoreng. Minyak goreng atau minyak makan mengandung lemak jenuh (saturated fat) yang bisa emicu pertambahan LDL (kolesterol jahat) lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fat) dan lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fat) yang bisa menurunkan LDL.
Dari hasil eksperimen yang pernah saya lakukan untuk sebuah merk minyak goreng, memang terbukti jika minyak kelapa dan minyak kelapa sawit merupakan jenis minyak yang paling bagus untuk menggoreng. Bisa menyimpan panas lebih lama dan memberi hasil gorengan yang kering dan garing. Ironisnya kedua jenis minyak ini justru mengandung lemak jenuh yang lebih besar dan tidak bersahabat pada jantung.
Karena itu mumpung saat ini harga minyak goreng (yang sebagian besar dari campuran minyak kelapa sawit) sedang naik, kita bisa melakukan beberapa cara jitu untuk menghemat. Untuk menumis makanan bisa dipakai jenis minyak lain (minyak kedelai, minyak olive atau minyak canola) yang lebih sehat. Teknik mengolah makanan juga bisa dibuat lebih sehat. Tinggal mencontoh atau meneruskan warisan nenek moyang kita. Misalnya tahu bisa dibuat botok, atau dibacem (diungkep dengan bumbu). Ayam juga lebih enak dibakar dengan bumbu kuning atau bumbu rujak atau bumbu Bali. Telur bisa dibuat petis telur, semur telur, opor telur atau bistik telur.
Pemakaian santan dan bumbu atau rempah akan memberi rasa gurih yang lebih dahsyat. Khusus untuk camilan, sudah saatnya beralih ke jajanan tradisional yang lebih sehat. Kue pisang yang dikukus (pakai tepung beras pula yanglebih murah dari tepung terigu), kue lapis, kue rangin, dan singkong juga tak perlu digoreng, bisa direbus dengan santan encer yang diberi gula merah sampai singkong merekah dan kecokelatan. Dijamin rasa penganan tradisional lebih dahsyat dari french fries atau burger!
Sudah seminggu ini saya juga mengurangi konsumsi gorengan. Seperti hari ini saya membuat sayur mangut iwak pe, tahu dan tempe bacem, ayam bakar Klaten, plus tumis kecipir tempe bosok. Nah, buat penganan sore saya sudah menyiapkan bongko pisang (dari tepung beras dan pisang raja) yang dibungkus daun pisang batu. Hmm... hitung-hitung berhemat sambil memulai hidup sehat sekaligus melestarikan warisan nenek moyang. Nah, Andapun bisa mulai dengan makanan daerah asal Anda! ( dev )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca juga:
Diskusikan pendapat Anda dengan pembaca lain melalui milis detikfood-milis@yahoogroups.com
Kirim e-mail kosong ke detikfood-milis-subscribe@yahoogroups.com untuk berpartisipasi.
Kirim e-mail kosong ke detikfood-milis-subscribe@yahoogroups.com untuk berpartisipasi.
Redaksi: redaksi@detikfood.com
Informasi Pemasangan Iklan:
Widya Dewi
Email : iklan@detikfood.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.525,526
Informasi Pemasangan Iklan:
Widya Dewi
Email : iklan@detikfood.com
Telepon. 62-21-7941177 ext.525,526



